Alternatif Pengembangan Bandung Sebagai Tourist City

on Senin, 06 April 2009

MENJAMURNYA factory outlet, pusat perbelanjaan, dan restoran di Kota Bandung dalam beberapa tahun terakhir merupakan fenomena menarik yang menempatkan Bandung ke dalam peta wisata nasional. Bandung yang sebelunya relatif tenang, tiba-tiba dipenuhi oleh wisatawan Nusantara yang datang untuk berbelanja berbagai macam produk, terutama pada akhir pekan.

Fenomena ini bisa jadi menguntungkan dari sisi ekonomi, terutama bagi Pemerintah Kota Bandung dan para pengusaha di bidang bisnis dan pariwisata. Namun, Bandung juga harus menghadapi fakta lain, yaitu meurunnya kualitas lingkungan kota dan masih rendahnya kualitas sistem transportasi.

Berdasarkan survei pribadi yang melibatkan 129 responden yang pernah berkunjung ke Bandung dalam tiga tahun terakhir (2002), sistem transportasi menempati urutan terendah apabila dibandingkan dengan aspek-aspek selain pariwisata, seperti atraksi wisata, akomodasi, dan fasilitas wisata pendukung lainnya.

Umumnya responden menyayangkan kondisi lalu lintas Bandung, yang digambarkan sebagai membingungkan (terutama karena banyak jalan satu arah), kurang memiliki petunjuk arah, jalan-jalan yang berlubang, dan kemacetan lalu lintas. Hal ini sangat mengurangi kenyamanan Bandung sebagai kota jasa seperti yang direncanakan oleh pemerintah kota.

Bila mau menelusuri akar permasalahannya, sebetulnya sangat mudah. Pada awalnya, Bandung hanya direncanakan sebagai kota permukiman dan peristirahatan bagi 500.000 penduduk. Setelah Kemerdekan RI dan menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung mulai dibebani berbagai fungsi dan jumlah penduduk pun terus bertambah hingga sekira 2,5 juta di area seluas hanya 160 km2 saat ini.

Kondisi ini semakin diperparah oleh laju pertumbuhan jalan yang hanya mencapai 0,2% per tahunnya, sedangkan pertumbuhan kendaraan bermotor lebih dari 11% per tahun. Menurut catatan terakhir (2001), luas jalan di Kota Bandung hanya 5,12% dari luas kota, padahal idealnya 20%. Bisa disimpulkan, Bandung belum siap menjadi kota jasa dari sisi infrstruktur dan tata kota.

Kenyataan tersebut sangat kontradiktif dengan rencana pemerintah kota yang berambisi menjadikan Bandung sebagai kota jasa. Padahal, kenyamanan merupakan salah satu aspek penting dalam bidang jasa. Selain itu, transportasi merupakan salah satu produk industri pariwisata, di samping atraksi dan fasilitas lain seperti akomodasi, restoran, dan hiburan.

Sungguh sayang apabila masalah ini tidak segera dicarikan solusi dan tindakannya. Padahal Bandung memiliki daya tarik unik yang jarang dijumpai di kota-kota lain di Indonesia. Beberapa kelebihan Bandung adalah memiliki suhu udara rata-rata yang lebih rendah, memiliki panorama alam yang indah karena letak geografisnya di daerah pegunungan, serta mewarisi cukup banyak bangunan unik bersejarah dari masa kolonial, baik bernuansa Eropa maupun lokal.

Apabila mengacu pada jenis tourist city yang dikemukakan oleh Judd dan Fainstein (1999), Bandung termasuk ke dalam jenis kota wisata yang tidak menerapkan satu strategi khusus bagi turisnya. Kegiatan pariwisata kota-kota jenis ini telah melebur dan menjadi bagian kehidupan warga sehari-hari. Di Bandung, kegiatan perekonomian, terutama di bidang perdagangan dan perindustrian, telah menarik banyak kunjungan wisatawan untuk melakukan aktivitas belanja, seperti produk-produk tekstil, garmen, dan kerajinan tangan.

Dalam pengembangannya sebagai kota wisata, Bandung bisa mencontoh Kota Boston di Amerika Serikat. Dalam beberapa hal, kedua kota ini memiliki karakter yang sama, yaitu bervisi sebagai kota jasa (untuk Boston, jasa lebih ditekankan pada industri pendidikan dan kesehatan), ukuran kota yang tidak terlalu besar (Boston 129 km2), mewarisi banyak bangunan unik dan bersejarah dari masa kolonial, aktivitas turisme yang menyatu dengan kegiatan warga sehari-hari, dan pemusatan berbagai aktivitas dalam satu kawasan (mixed-use district).

**

STRATEGI pengembangan kawasan untuk kegiatan turisme di Bandung, bisa dibagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan inti dan kawasan baru. Kawasan inti mencakup kawasan asli Kota Bandung, yang kaya akan bangunan dan kawasan bersejarah.

Kegiatan yang ditekankan di kawasan inti mencakup kegiatan konservasi bangunan historis, serta penerapan technological culture (pembangunan gedung baru di kawasan inti yang mengacu pada kekhasan lokal agar citra spesifik kawasan dapat lebih muncul).

Sementara itu, kawasan baru mencakup kawasan di luar kawasan inti, yang lebih menekankan pada pembagian zona (zoning) menurut fungsi agar tidak terjadi penumpukkan fungsi seperti yang telah terjadi pada kawasan inti Kota Bandung saat ini.

Kawasan historis dalam kawasan inti, seperti Jln. Braga dan Jln. Dago, dengan koleksi bangunan dan rumah tinggalnya yang anggun, dapat dioptimalkan daya tariknya melalui program konservasi. Untuk mencegah penghancuran bangunan-bangnan lama, terutama yang tidak berfungsi sama sekali, ada dua strategi yang dapat diterapkan, yaitu dengan memanfaatkan fungsi yang sama (adaptive re-use), atau mengubah fungsi (new use for building). Kedua strategi itu biasanya mempertimbangkan pula faktor ekonomis agar bisa menghasilkan keuntungan, yang pada gilirannya bisa mendanai perawatan gedung itu sendiri.

Untuk menerapkannya, harus ada minat dari pemilik bangunan dan penanaman modal, dengan koordinasi dari pemerintah kota. Konservasi Hotel Savoy Homann dan Grand Hotel Preanger adalah contoh sukses dari program konservasi di Kota Bandung.

Dengan ukuran kota yang tidak terlalu besar (160 km2) dan suhu udara yang tidak terlalu tinggi (19-29 derajat Celcius), Bandung bisa mengembangkan walking tour yang memadukan wisata belanja dengan wisata sejarah atau nostalgia. Rutenya bisa dibuat berdasarkan tema, seperti ”Early Bandung Tour”, ”The Garden City Tour”, ”The Golden Age Tour”, ”Tur Bandung Lautan Api”, dan ”The All-Shoppers’ City Tour”.

Kota Boston (129 km2) dan San Francisco (122 km2), dengan ribuan rumah cantik bergaya Victoria dari abad ke-19 memiliki reputasi sebagai walking city di Amerika Serikat yang justru terkenal sebagai pemuja segala sesuatu yang baru dan modern. Bandung yang memiliki warisan bangunan art deco dari tahun 1920-30-an (konon ketiga terbanyak setelah Miami, Florida, dan Napier, New Zealand), tentu saja bisa mulai mengoptimalkan aset tersebut. Tentu saja hal ini harus didukung oleh ketersedian infrastruktur, seperti trotoar. Suatu pekerjaan rumah yang cukup menantang mengingat kondisi umum trotoar di Kota Bandung yang masih memprihatinkan. Selain tur dalam kota, Bandung juga bisa menjadi homebase bagi kunjungan wisata ke daerah-daerah sekitar Bandung, seperti Gunung Tangkubanparahu dan perkebunan teh di Ciwidey dan Pengalengan.

Selain itu, Bandung perlu lebih aktif dalam menyelenggarakan dan mempromosikan even-even yang dapat menarik minat pengunjung dalam skala besar. Penyelenggara even, selain akan menempatkan suatu kota dalam benak wisatawan (tourists’ mental map), juga akan membuat suasana koa lebih hidup (vibrant), yang merupakan ciri dari suatu tourist city.

Penyelenggaraan ”Dago Festival” yang cukup sukses dalam 2 tahun terakhir merupakan suatu terobosan dan kemajuan bagi Bandung yang selama ini seakan kurang terdengar kiprahnya dalam kalender wisata nasional. Untuk lebih mempertegas image Bandung sebagai ”Kota Kembang”, penghijauan perlu kembali digalakkan. Pembangunan fisik kota saat ini cenderung mengorbankan lingkungan hijau kota.

Pengembangan Bandung sebagai tourist city sebetulnya cukup potensial mengingat daya tarik dan keunikan yang dimiliki ”Kota Kembang” ini, sepanjang ada usaha nyata untuk mencari solusi dan tindakan untuk meningkatkan kondisi yang mendukung visi sebagai kota jasa. Bukan tidak mungkin suatu saat Bandung bisa menjadi kota tujuan wisata favorit yang berkualitas, tidak saja bagi wisatawan Nusantara, namun juga wisatawan mancanegara.

Bandung, "Parit van Java"

on Sabtu, 07 Februari 2009

BANDUNG, yang sejak lama sudah mendapat julukan Paris van Java, Kota Kembang, Kota Asia-Afrika (A-A), serta sederet nama lainnya, pada usianya yang ke-192-usia tua renta yang penuh dengan permasalahan lingkungan dan kehidupan-ternyata bentuk dan sifatnya semakin rawan dan semakin pikahariwangeun (mengkhawatirkan).

Padahal di dalam ba it-bait lagu dan dangding tentang Kota Bandung, semuanya memiliki nada-arti yang sama: pujaan, pujian, dan kenang-kenangan manis penuh arti bagi Bandung, ibu kota Parahyangan.

Oleh karena letaknya di dataran tinggi, yang dikelilingi pegunungan, hutan, dan perkebunan, udaranya sejuk dan menyehatkan, penduduknya ramah-ramah, dan alamnya gemah ripah loh jinawi, tata tengtrem pikabetaheun (tenteram dan membuat betah).

Tetapi, bagaimana sekarang?

Sesuai dengan umurnya yang semakin tua, keadaannya yang semakin kumuh, jumlah penduduknya yang semakin banyak dan membeludak, ditambah dengan keadaan lingkungan yang tidak mendukung didapati banyak pencemaran yang dihasilkan oleh permukiman padat, terutama yang dihasilkan banyak jenis pabrik yang mengelilingi Bandung.

Dapat dibayangkan kalau Bandung sekarang sudah begini, apalagi yang akan datang, akan semakin rawan dan semakin matak-pikahariwangeun sarerea (mengkhawatirkan semua orang).

Pohon lindung di sekitar Bandung banyak yang sudah berubah, baik dari segi jumlah maupun jenis dan penempatannya. Padahal, pohon lindung berfungsi sebagai paru-paru kota yang akan menyerap segala jenis udara kotor yang mengandung pencemar, serta kemudian menghasilkan udara segar dan bersih. Jangan heran kalau penghuni Bandung dewasa ini banyak yang mengidap penyakit pernapasan, sesak-sesak, sampai ke penyakit paru-paru ataupun asma.

Bahkan, yang paling menyedihkan dengan udara Bandung yang sudah sangat jelek nilainya untuk kehidupan adalah semakin langkanya jenis burung berkicau, yang dulunya setiap pagi akan ramai berbunyi di setiap pohon, berloncat-loncat antara dahan satu ke dahan lainnya, seperti kutilang/cangkurileung, jogjog, kerak, piit, dan galejra. Bahkan, sampai burung malam yang biasa ikut menyemarakkan Kota Bandung malam hari, seperti bueuk dan koreak, sekarang sudah hampir hilang. Kalaupun ada, itu hanya di sekitar Bukit Dago, atau Ciumbuleuit, atau Setiabudhi, atau tempat-tempat di pinggiran kota yang masih berdekatan dengan rimbunan pohon, tegalan, dan persawahan.

Kehadiran pohon tertentu sekitar perumahan, pertamanan, dan pusat perkotaan, ataupun tempat-tempat lainnya, sejak lama sudah dicadangkan oleh Gemeente Bandung atau Kodya Bandung sejak Bandung ini berubah dari kampung besar menjadi kota.

Karena kehadiran pohon tertentu, bukan sekadar sebagai penyaring udara jelek, menjadi penarik burung agar menjadi betah bersarang dan tinggal. Akibatnya, apakah itu subuh-subuh dan apalagi sore hari, di tempat-tempat tersebut akan "recet" atau ramai oleh suara kicauan burung.

Apalagi sekarang, Bandung bukan hanya dikuriling ku gunung dan lembur, tetapi justru sudah penuh terkurung oleh banyak jenis pabrik, baik di bagian selatan sekitar Dayeuhkolot, Banjaran, dan Soreang ataupun di bagian timur dan barat sekitar Rancaekek, Cicalengka, Ujungberung, Cimahi, Padalarang, serta tempat-tempat lainnya.

Sumber pencemar udara akan diperparah lagi oleh kehadiran pencemar air, baik yang datang dari pabrik dan industri ataupun dari pusat keramaian kota sampai ke rumah-rumah penduduk. Maka tidak heran kalau suatu saat berjalan melewati Jalan Moh Toha, Kopo, Buahbatu, Cicadas, dan Padalarang, kita menyaksikan air yang mengalir sepanjang sungai berwarna kuning, merah, biru, hijau, atau hitam sekalipun, tergantung kepada limbah warna pencelupan apa yang sedang dialirkan. Tetapi, jangan dilupakan, kotoran yang berasal dari WC, dari dapur, dari kamar mandi terbawa aliran sungai juga membahayakan.

Ini sekadar untuk diketahui, betapa parah dan berbahayanya air sungai di Kota Bandung dari pencemaran rumah tangga. Hasil analisis kandungan bakteri-tinjanya (bakteri Coli), nilai rata-rata antara 10 x 106 sampai 10 x 1014 itu sudah merupakan nilai rata-rata setiap hari. Sedangkan dengan nilai sudah lebih dari 10 x 103, besar kemungkinan di dalam air sungai tersebut juga berisi bakteri/kuman penyebab penyakit menular-berbahaya, seperti muntaber, tifus, paratifus, diare, dan kolera, yang menjadi penyebab terjadinya wabah dan keracunan setiap saat.

Kondisi lahan di Kota Bandung saat ini juga mengalami krisis, terutama akibat kemarau panjang. Sekering dan sepanjang apa pun musim kemarau, Bandung tidak pernah ditimpa krisis sumber air karena dengan dataran tinggi Bandung yang dikelilingi hutan, perkebunan, dan banyak ruang terbuka hijau (RTH) ditambah dengan letaknya pada cekungan kawasan Bandung, cadangan air hujan akan selalu tersedia secara cukup dan baik.

Masalahnya, RTH di Bandung, dalam bentuk pertamanan dan tegalan, sekarang banyak berubah menjadi bangunan dan menjadi tempat parkir, bahkan menjadi pompa bensin segala.

Kemudian lahan-lahan dan ladang di bagian utara atau selatan atau timur Bandung juga sudah banyak yang berubah menjadi permukiman padat, bangunan pabrik, dan pusat perkotaan. Maka apa yang disebut kawasan resapan air (KRA), terutama air hujan, sudah sangat jauh berkurang, bahkan hilang sama sekali.

Celakanya, begitu hujan turun, banjir-cileuncang (banjir kecil yang disebabkan curahan hujan) akan cepat berubah menjadi banjir besar yang menimpa permukiman, perkotaan, jalan, kawasan pabrik, dan sebagainya yang pada akhirnya menyebabkan bencana jangka pendek.

Bencana jangka pendek itu adalah banyak bangunan, jalan, dan jembatan yang rusak. Sedangkan untuk jangka panjang, sisa-sisa akibat banjir akan dapat menjadi sumber wabah penyakit, minimal muntaber (muntah berak) dan demam berdarah, serta kerusakan lainnya.

Akibatnya, muncul julukan Bandung Parit van Java (paritnya Jawa), sebagai pelesetan dari sebutan Bandung Parijs van Java (Kota Paris-nya Pulau Jawa).

Belum lagi dampak lain yang membuat penghuni kota menjadi beringas, berperilaku kasar. Masalahnya adalah udara yang kotor penuh dengan berbagai jenis pencemaran, kawasan yang kotor penuh sampah dan kotoran lainnya, tanpa adanya tanaman yang memberikan kesejukan, tanpa pemandangan indah dan penyaring udara kotor, akan banyak berpengaruh terhadap kejiwaan seseorang, menjadi semakin beringas, semakin nekat, semakin memiliki sifat kriminal, dan semakin jahat.

Apakah Kota Bandung dibiarkan menjadi seperti ini?

Tentu saja tidak sehingga diperlukan upaya dan tindakan bersama untuk menyelamatkannya sejak sekarang. Jadikanlah Bandung, hijau dan bersih, seperti semboyan lama yang sudah dicanangkan sejak lama.

Jadikanlah Kota Bandung tetap bersih dari segala macam sampah dan kemudian menjadi hijau dengan berbagai jenis tanaman/pohon bermanfaat di setiap jengkal tanah yang memungkinkan, seperti warisan Bandung Tempo Doeloe. Pertahankan Bandung sebagai Parijs van Java.

over night in bandung. Kumaha?????

on Minggu, 25 Januari 2009


KEBIASAAN orang Bandung menghabiskan malam, bukan hanya diisi dengan clubbing ataupun pergi ke berbagai tempat hiburan malam. Mereka ada juga yang kerap datang ke tempat-tempat makan unik. Sebuah tempat yang berfungsi bukan saja untuk ”ngganjel” perut yang keroncongan saat malam hari. Tetapi tempat mangkal, sambil ngaso dan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati pemandangan kota di malam hari.

Sebut saja ”Bubur Ayam PR”, tempat makan yang terletak dep
an Gedung PWI dan bersebelahan dengan kantor Pikiran Rakyat di Jln. Asia Afrika Bandung ini, sudah menjadi tempat nongkrong favorit saat malam hari. Dengan asapnya yang masih mengepul, bubur bertabur ayam, ati ampela, cakue, dan emping garing ini, pasti mengundang Anda untuk mencicipinya. Ditemani syair ”Demi Waktu” milik Ungu yang dikumandangkan pengamen jalanan, bubur itu bisa tandas sebelum lagu usai.

”Bubur Ayam PR” memang disajikan dalam porsi sedikit (setengah mangkuk) dengan harga Rp 7.000,00 per porsi. Tak ayal, bila kawula muda yang sering datang tempat ini bisa menghabiskan lebih dari satu porsi bubur.

”Bubur Ayam PR” sudah mangkal di tempat ini sejak 1982. Walau hanya berbekal satu gerobak dan beberapa kursi plastik, penikmatnya cukup banyak. Mereka mulai ramai berdatangan sejak pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Bahkan, dulu, para tamu hotel pun bisa memesannya.

”Dibandingkan dengan bubur lain sih mungkin sama, tetapi di sini tempatnya strategis karena terletak di jantung kota. Pembeli bukan hanya makan bubur, tetapi juga dapat menikmati suasana kota. Melihat hotel Savoy Homann dan Gedung Merdeka yang megah,” ujar pemilik yang mengaku sebagai generasi kedua setelah ayahnya ini.

Selain ”Bubur Ayam PR”, tempat makan yang juga tempat nongkrong asyik adalah warung ”CeMar” yang terletak tepat di pertigaan Cikapundung Timur dengan Jln. Cikapundung atau toko Taurus (pada siang hari). Sedangkan nama CeMar itu merupakan singkat dari cepat Mar dan ceu Mar. ”Jadinya, dibilang saja Warung Oemar,” ujar Ibu Maria pemilik warung sekaligus kasir.

Di tempat ini terhidang sepuluh jenis lebih lauk-pauk plus beragam jenis gorengan seperti bala-bala, goreng tempe, dll. Tetapi menu paling ”kojo” dan banyak diminati pengunjung adalah gulai.

Tak heran, bila Ibu Maria bisa menghabiskan beras tak kurang 70 kg per malam. ”Di sini kita memang menyediakan menu prasmanan lengkap, ada ikan, lauk, telur, goreng-goreng, bacem, dan tumis. Tetapi yang paling disukai pembeli itu gulai,” ujar ibu Maria.

Ibu Maria dan suaminya telah merintis usaha ini sejak sepuluh tahun lalu. Kalangan pembelinya tak hanya datang dari anak-anak muda yang menghabiskan malam harinya, tetapi juga para orang tua yang ingin memberi variasi bagi makan malamnya.

**

DI jantung kota agak ke sebelah barat, tepatnya di Jln. Stasiun Lama bersebelahan dengan terminal angkot St. Hall-Lembang, ada tempat makan ”serem-serem mendebarkan”. Apa pasal? Tengok saja lampunya, selain remang-remang, pengunjungnya pun sangat beragam. Mulai dari abang-abang becak, para petugas stasiun dan terminal, sampai para pendatang yang baru tiba di Bandung dengan kereta. Bahkan kalangan atas ber-”Mercy” pun ada juga. Mereka semua bisa tumplek ke tempat bernama warung Ma’ Unus.

Apalagi bila jam mulai menunjukkan pukul 22.00 WIB ke atas, para pemburu rasa bisa ngantri panjang berderet. Bila dilihat sekilas, warung Ma’ Unus ini memang tidak berbeda dengan warteg-warteg lainnya. Tetapi yang menjadi ”magnet” warung yang buka 24 jam ini adalah perkedelnya. Namanya ”Perkedel Bondon”! Konon, menurut sahibul cerita dari mulut ke mulut, tempat ini awalnya memang tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK) yang juga kerap melakukan transaksi di tempat tersebut.

Akibatnya, bisa ditebak! Perkedel yang tersedia di warung Ma’Unus, dikenal urang Bandung dengan sebutan ”Perkedel Bondon”. Perkedel ini sebenarnya perkedel biasa, terbuat dari kentang dicampur telur. Harganya pun tidak mahal, hanya Rp 600,00. ”Ah, heunteu didagingan, neng. Biasa we, kentang sareng endog dicampur teras digoreng,” ujar ibu Ani (53) yang cukup sibuk melayani pembeli yang sudah mulai berderet.

Saking perkedel ini terkenal, ibu Ani bisa menghabiskan 40 kg kentang per hari. Padahal, hidangan lain juga ada, seperti babat raweuy, ayam goreng, tempe goreng, lalapan, dll. Asyiknya, di tempat ini, saluran televisi yang dipasang, pastilah lagu dangdut. Seperti Kamis (9/3) malam itu, saat ”PR” menyambangi warung ini, goyangan Uut Permatasari yang ditayangkan sebuah stasiun swasta sangat mengobati para pembeli yang mengantre.

”Saya sudah lima tahun langgan beli perkedel di sini, rasanya enak dan lebih praktis, enggak usah bikin sendiri,” ujar Ade (45) ikut mengantre sejak pukul 23.00 WIB.

Dari stasiun, agak ke sebelah selatan, atau tepatnya di Jln. Pasirkoja sesudah pertigaan Pasirkoja-Kopo, ada tempat mangkal yang sama uniknya.

Di tempat ini, sebagian besar pengunjungnya adalah warga keturunan. ”Duka teu terang, tetapi mereka sering ke sini dan sudah menjadi pelanggan tetap,” Hendi (34) pemilik warung tenda ”Nasi Kuning Pasirkoja”.

Menu ”kojo” di tempat ini sangat ”kahot”, yakni semur jengkol! Padahal, dalam satu porsi nasi kuning, sudah dilengkapi dengan daging, telur, dan tahu. Tetapi tanpa semur jengkol, serasa belum makan nasi kuning Pasirkoja, begitu kata para pelanggan yang datang bermobil mewah itu. ”Peminatnya memang banyak, dari kalangan bawah sampai atas. Bahkan artis juga banyak yang sering mangkal di sini,” ujar Hendi sambil menyebut nama RiF, Aming, dan beberapa personel Project Pop.

**

MENUJU ke arah utara kota Bandung, tempat-tempat nongkrong dan makan 24 jam cukup banyak. Tetapi yang paling dikenal dan ramai dikunjungi anak muda, terutama mahasiswa, adalah kafe tenda Madtari dan kafe Olala.

Kafe tenda Madtari terletak di Jln. Ir. Djuanda (daerah Dago), tepatnya seberang timur pertigaan Cikapayang, di bawah jembatan layang Pasupati.

Di tempat ini, terdapat menu favorit semua kalangan: internet! (indomie, telur, kornet) dan pisang keju.

Kafe ini mulai buka pukul 17.00 WIB hingga dini hari atau sekira pukul 03.00 WIB. Usaha yang dirintis sejak tahun 2000 dan telah pindah di tiga lokasi ini, menurut Agus sang pemilik, sebagian besar pembelinya adalah mahasiswa. Mereka bukan hanya dari Bandung, tetapi juga pendatang musiman dari Jakarta atau kota besar lain di tanah air. Bahkan para artis Bandung pun, kerap datang.

Bagi para pencinta kopi, dapat menghabiskan malam harinya dengan mengunjungi kafe Olala. Kafe yang didesain bergaya metropolis ini, memang berbeda dengan tempat-tempat makan dan nongkrong sebelumnya. Letaknya yang berada di atas Jln. Dago dengan sofa-sofa hangat di bagian dalam kafe, memberi kesan yang hommy banget. Sedangkan kursi-kursi aluminium yang ditempatkan di luar kafe, dapat memanjakan pengunjung saat menikmati Dago malam hari.

Sama halnya Madtari, kafe ini, menurut asisten kafe, Dodi, pangsa pasarnya adalah mahasiswa. Tetapi karena letaknya yang strategis, menjadikan tempat ini dikunjungi banyak orang. Termasuk menjadi tempat ”janjian” mereka sebelum menyusuri Bandung malam hari.

Ada juga yang menjadikannya sebagai tempat mengerjakan tugas-tugas kuliah atau bahkan melakukan lobi-lobi masalah bisnis. ”Bahkan ada lho, yang bela-belain datang sendirian ke sini hanya untuk mengerjakan tugas atau PR kampus,” ujarnya lagi.

Makanan favorit yang banyak dipilih adalah soup feuillette. Meski demikian, berbagai jenis ”pastry” seperti ”croisant”, dll, tergerai di etalase yang diladeni anak-anak muda berpakaian merah.

Khusus untuk minuman, dapat dipilih minuman panas seperti hot cappucino atau hot tea dan untuk minuman dingin dapat dipilih ice chocolate atau ice strawwberry.

Di tempat ini, pengunjung juga bisa nonton bareng acara-acara olah raga semisal sepak bola ataupun rally F-1, dll. Termasuk, mengunjungi hotspot-hotspot melalui internet karena pemilik kafe bekerja sama dengan sebuah jasa pelayanan internet terbesar di kota Bandung.

Bandung my City

on Kamis, 22 Januari 2009

Kota Bandung, siapa sih yang tidak kenal? Kota Lautan Api, di situ terletak pula berbagai kampus terkemuka di Indonesia, suasana kota, pusat belanja, dan pusat mode. Nah untuk mengawali postingan di blog ini, menurut kalian, hal apa yang paling mengingatkan akan Kota Bandung?

2 temen gw, mengatakan begini:

3 kata berawalan M yang bikin gw cinta setengah mati ma Bandung:
1. Makanan
2. Mall
3. Male
Huhaha..Bandung itu surga makanan dari yang murah mpe mahal..dari yang bisa aja mpe yg mak..Nyus..
Di Bandung itu bnyak bgt mall..n sru bgt bwt window shopping..trs FO nya jg banyak bgt..Surga shopping lah..
Yang terakhir..Hehehe..seru cuci mata ngeliatin co di bandung..N co gw skrg jg org bandung..hehehe..
I Love Bandung lah..


yang laen mengatakan begini:

3 kata tentang bandung :

- ‘Makanan’ –> enak & murah
- ‘Montok’ –> cewek2 nya lucu2 & seksi2, hehe…
- ‘Macet’ –> bandung sekarang gila !!!

tetep, jajanan no.1, maksudnya kl mau buka warung atau kafe atau restoran atau apapun yang menjual makanan, Dijamin Laku !! asalkan enak & murah, hahaha….


Yuuuuppppssss, aniwe. Bandung is # 1. Kumaha??????